Puasa Ramadhan bersama Pemerintah Syiar Kebersamaan Umat Islam

1 ramadhan 1434 Hijriah telah di tetapkan oleh pemerintah jatuh pada Hari Rabu 10 Juli 2013. Alhamdulillah upaya yang dilakukan oleh pemerintah Indonesia ~semoga Allah selalu memberi hidayah dan memberikan pemimpin yang sholeh~ .

ramadhan mubarok Puasa Ramadhan bersama Pemerintah Syiar Kebersamaan Umat Islam

Ramadhan mubarok

Namun demikian timbul berbagai macam polemik. Polemik ini di timbulkan oleh ormas yang mengaku islam yang menetapkan bulan ramadhan berbeda dengan apa yang telah ditetapkan pemerintah. Mulai dari Muhammadiyyah (lebih tepatnya Dahlaniyah/Ahmadiyah karena pendirinya bernama Ahmad Dahlan), Majelis Mujahidin (yang sering memiki sifat keras dan penentangan terhadap pemerintah) dan bermacam ormas lainnya yang menyelisihi pemerintah.

Kemudian bagaimanakah bimbingan Islam dalam menghadapi hal yang semacam ini?

mari kita simak ringkasan artikel dari buletin saku Al-Ilmu (Ma’had As-Salafy Jember)

Shoum Ramadhan bersama Pemerintah Syiar Kebersamaan Umat Islam

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

ﻣﻦ ﺃﻃﺎﻋﻨﻲ ﻓﻘﺪ ﺃﻃﺎﻉ ﷲ، ﻭﻣﻦ ﻋﺼﺎﻧﻲ ﻓﻘﺪ ﻋﺼﺎﷲ، ﻭﻣﻦ ﺃﻃﺎﻉ ﺃﻣﻴﺮﻱ ﻓﻘﺪ ﺃﻃﺎﻋﻨﻲ، ﻭﻣﻦ ﻋﺼﻰ ﺃﻣﻴﺮﻱ ﻓﻘﺪ ﻋﺼﺎﻧﻲ

“Barangsiapa menaatiku berarti telah menaati Allah, barangsiapa menentangku berarti telah menentang Allah, barangsiapa menaati pemimpin (umat)ku berarti telah menaatiku, dan barangsiapa menentang pemimpin (umat)ku berarti telah menentangku.” (HR. al-Bukhari dan Muslim, dari shahabat Abu Hurairah Radhiallahu ‘anhu)

Al-Hafizh Ibnu Hajar al-Asqalani Rahimahullah berkata: “Di dalam hadits ini terdapat keterangan tentang kewajiban menaati para pemerintah dalam perkara-perkara yang bukan kemaksiatan. Adapun hikmahnya adalah untuk menjaga persatuan dan kebersamaan (umat Islam), karena di dalam perpecahan terdapat kerusakan.” (Fathul Bari, 13/120).

Fatwa para ulama seputar puasa ramadhan bersama pemerintah

Al-Imam Ahmad bin Hanbal Rahimahullah berkata: “Seseorang (hendaknya) berpuasa bersama pemerintah dan jama’ah (mayoritas) umat Islam, baik ketika cuaca cerah ataupun mendung. Beliau juga berkata: “Tangan Allah Ta’aala bersama Al-Jama’ah.” (Majmu’ Fatawa 25/117)

Al-Imam at-Tirmidzi Rahimahullah berkata: “Sebagian ulama menafsirkan hadits Abu Hurairah Radhiallahu ‘anhu:

ﺍﻟﺼﻮﻡ ﻳﻮﻡ ﺗﺼﻮﻣﻮﻥ ، ﻭﺍﻟﻔﻄﺮ ﻳﻮﻡ ﺗﻔﻄﺮﻭﻥ ، ﻭﺍﻸﺿﺤﻰ ﻳﻮﻡ ﺗﻀﺤﻮﻥ

“Puasa itu di hari kalian (umat Islam) berpuasa, idul fitri adalah pada saat kalian berbuka (ber-idul fitri), dan (waktu) berkurban/Iedul Adha di hari kalian berkurban.”
Dengan perkataan (mereka), ‘sesungguhnya puasa dan hari raya itu (dilaksanakan) bersama al-Jama’ah dan mayoritas umat Islam’.” (Tuhfatul Ahwadzi 2/37)

Al-Imam Abul Hasan As-Sindi Rahimahullah berkata: “Yang jelas, makna hadits ini adalah bahwasanya perkara-perkara semacam ini (menentukan pelaksanaan puasa Ramadhan, Idul Fitri dan Idul Adha) keputusannya bukan di tangan individu, dan tidak ada hak bagi mereka untuk melakukannya sendiri-sendiri. Akan tetapi permasalahan semacam ini dikembalikan kepada pemerintah dan mayoritas umat Islam, dan dalam hal ini setiap individu pun wajib untuk mengikuti pemerintah dan mayoritas umat Islam.
Maka dari itu, jika ada seseorang melihat hilal (bulan sabit) namun pemerintah menolak persaksiannya, sudah sepatutnya untuk tidak dianggap persaksian tersebut dan wajib baginya untuk mengikuti mayoritas umat Islam dalam permasalahan ini.” (ash-Shahihah 2/443)

Asy-Syaikh al-Muhaddits Muhammad Nashiruddin al-Albani Rahimahullah berkata: “Dan selama belum (terwujud) bersatunya negeri-negeri Islam di atas satu mathla’ (dalam menentukan pelaksanaan puasa Ramadhan), maka aku berpendapat bahwa setiap warga negara hendaknya melaksanakan puasa Ramadhan bersama negaranya (pemerintahnya) masing-masing dan tidak bercerai-berai dalam perkara ini, yakni berpuasa bersama pemerintah dan sebagian lainnya berpuasa bersama negara lain, baik mendahului pemerintahnya atau pun membelakanginya. Karena yang demikian itu dapat mempertajam perselisihan di tengah masyarakat muslim sendiri. Sebagaimana yang terjadi di negara Arab sejak beberapa tahun yang lalu, Wallahul Musta’an.” (Tamamul Minnah hal. 398)

*Asy-Syaikh al-Allamah Abdul Aziz bin Baz Rahimahullah pernah ditanya: “Jika awal masuknya bulan Ramadhan telah diumumkan di salah satu negeri Islam semisal kerajaan Saudi Arabia, namun di negeri kami belum diumumkan, bagaimanakah hukumnya?
Apakah kami berpuasa bersama kerajaan Saudi Arabia ataukah berpuasa dan berbuka bersama penduduk negeri kami, manakala ada pengumuman?
Demikian pula halnya dengan masuknya Idul Fitri, apa yang harus kami lakukan bila terjadi perbedaan antara negeri kami dengan negeri lainnya? Semoga Allah Ta’aala membalas engkau dengan kebaikan.”

Maka beliau menjawab: “Bagi setiap muslim hendaknya berpuasa dan berhari raya bersama (pemerintah) negerinya masing-masing. Hal itu berdasarkan sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam:
“Puasa itu di hari kalian (umat Islam) berpuasa, Idul Fitri itu adalah pada saat kalian ber-idul Fitri, dan Idul Adha itu di hari kalian berkurban.” Wabillahit Taufiq (Lihat Fatawa Ramadhan hal. 112)

*Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin Rahimahullah ditanya: “Umat Islam di luar dunia Islam sering berselisih dalam menyikapi berbagai macam permasalahan seperti (penentuan) masuk dan keluarnya bulan Ramadhan, serta saling berebut jabatan di bidang dakwah.
Fenomena ini terjadi setiap tahun, hanya saja tingkat ketajamannya berbeda-beda pada tiap tahunnya. Penyebab utamanya adalah minimnya ilmu agama, mengikuti hawa nafsu dan terkadang fanatisme madzhab atau golongan, tanpa mempedulikan rambu-rambu syari’at Islam dan bimbingan ulama yang kesohor akan ilmu dan wara’nya. Maka, adakah sebuah nasehat yang kiranya bermanfaat dan dapat mencegah (terjadinya) sekian kejelekan?
Semoga Allah Ta’aala memberikan taufiq dan penjagaan-Nya kepada engkau.”

Maka beliau berkata: “Umat Islam wajib bersatu dan tidak boleh berpecah belah dalam beragama. Sebagaimana firman Allah Ta’aala (artinya): “Dia telah mensyari’atkan bagi kalian tentang agama, apa yang telah diwasiatkan-Nya kepada Nuh dan apa yang telah kami wasiatkan kepadamu, Ibrahim, Musa, dan Isa, yaitu Tegakkanlah agama dan janganlah kalian berpecah belah tentangnya.” (asy-Syuura: 13)
“Dan berpegang teguhlah kalian semua dengan tali (agama) Allah , dan janganlah kalian bercerai berai.” (Ali Imran: 103)
“Dan janganlah kalian seperti orang-orang yang berpecah belah dan berselisih setelah datang kepada mereka keterangan, dan bagi mereka adzab yang pedih.” (Ali Imran: 105)

Maka wajib bagi umat Islam untuk menjadi umat yang satu dan tidak berpecah belah dalam beragama. Hendaknya waktu puasa dan hari raya mereka satu, dengan mengikuti keputusan badan/departemen yang menangani urusan umat Islam dan tidak bercerai berai (dalam masalah ini), walaupun harus membelakangi puasa kerajaan Saudi Arabia atau negeri Islam lainnya.” (Fatawa Fi Ahkamish Shiyam, hal. 51-52)

*Fatwa al-Lajnah ad-Daimah Lil-Buhuts al-’Ilmiyyah wal-Ifftaa‘: “… Dan tidak mengapa bagi penduduk negeri manapun, jika tidak melihat hilal (bulan tsabit) di tempat tinggalnya pada malam ke-30 untuk mengambil hasil ru’yatul hilal dari tempat lain di negerinya. Jika umat Islam di negeri tersebut berbeda pendapat dalam hal penentuannya, maka yang harus diikuti adalah keputusan pemerintah di negeri tersebut bila ia seorang muslim, karena (dengan mengikuti) keputusannya akan sirnalah perbedaan pendapat itu.
Dan jika si pemerintah bukan seorang muslim, maka hendaknya mengikuti keputusan majelis/departemen pusat yang membidangi urusan umat Islam di negeri tersebut. Hal ini semata-mata untuk menjaga kebersamaan umat Islam dalam menjalankan puasa Ramadhan dan shalat Id di negeri mereka.
Wabillahittaufiq, washallallahu ‘ala Nabiyyina Muhammad wa alihi wa shahbihi wasallam.”
(Pemberi fatwa: asy-Syaikh Abdur Razzaq ‘Afifi, asy-Syaikh Abdullah bin Ghudayyan dan asy-Syaikh Abdullah bin Mani’. (Lihat Fatawa Ramadhan hal. 117)

Dinukil dari buletin saku Al-Ilmu (Ma’had As-Salafy Jember)